untuk semua yang masih bisa kurasakan darimu, terima kasih.
Benci dan rindu adalah dua hal yang
sangat berbeda namun sama-sama menyakitkan. Apalagi ketika malam-malam begini,
rasanya mereka berdua bekerja sama untuk menakut-nakutiku layaknya anak kecil
yang dihantui oleh monster pada saat mereka tidur. Bahkan mereka memanggil
sayang dan cinta untuk menambah insomnia disetiap malam. Ya, terkadang aku
sangat heran, karena bukankah sayang, cinta, rindu, dan benci sangat
bermusuhan? Namun mengapa mereka menyatu dalam ruang hatiku?
Mereka memakai jarak sebagai alasan
mereka menyatu. Jarak yang membuat mereka menjadi buram untuk dibedakan. Ingin kuungkapkan
bedanya namun yang ada hanya bungkam. Tak ada yang salah. Tak ada yang benar.
Jarak hanyalah kata.
Terkadang aku tak percaya adanya jarak
antara aku dan temanku yang satu ini. Karena kita selalu didekatkan oleh doa.
Doa yang menjadi mak comblang ketika kedua bibir sama-sama sembunyi. Doa yang
seakan-akan memaksa hati untuk menerima perhatian dan ketertarikan menjadi tamu
atau bahkan menjadi pemilik tetap di sana. Tak lupa, doa pula yang membuka
sumbat otak untuk mau mengakui bahwa ada aliran listrik yang menyengat pada
aliran darah saat disentuh oleh nama masing-masing. Bahkan hingga saat ini, doa
masih ampuh untuk selalu menyatukan kami di ruang dan waktu yang berbeda. Dan semoga
kelak, doa kami, mungkin juga doa kalian, mampu untuk menyatukan kami
selamanya. Amin.
Namun di waktu yang tak jarang juga,
terkadang aku juga bisa memaki jarak yang tak berdosa. Ini terjadi ketika
sayang, cinta, rindu, dan benci memiliki energi penuh untuk mengerjaiku. Mereka
semua tampak beringas dan cukup kuat untuk mencairkan kekuatanku menjadi air
mata. Tak ada yang lebih menyakitkan dari itu. Karena obatku hanyalah tatapan
mata dan rengkungan lembut yang saat-saat ini sangat mustahil untuk kugapai.
Dengan perih yang kubawa dalam lipatan
tangan, tatapan mata yang tadi kurindukan kututup dalam kedua mataku. Setiap
kata yang terasa dan (jarang) mampu terucap menggantikan hangat pelukannya. Saat-saat
seperti ini aku dapat mengadukan segala hal, terutama mengadukan rindu yang
nakal. Bermanja-manjaan dengan Semesta melalui kata, perasaan, gerakan, atau tangisan.
Aku yakin Ia mengerti tiap bahasa dan reaksi tubuhku.
Aku tak peduli jika kesempatan ini menjadi
kenangan atau pegangan. Karena setiap kali menambah rasa sayang, selalu kuusahakan
ingat untuk menambah kekuatan dikala kehilangan. Karena di semua waktu kencan
pasti ada pelajaran. Dan karena aku tahu, perpisahan atau penyatuan kelak juga
memiliki tujuan.
Intinya, aku sangat merindukannya saat
ini. Segala cara kucoba untuk menghibur diri. Untuk melupakannya. Untuk
mengalihkan benciku. Dan rasanya……. Sia-sia. Sayang, doamu terlalu kuat!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar