Kamis, 08 Oktober 2015

RINDU DAN DOA


untuk semua yang masih bisa kurasakan darimu, terima kasih. 
Benci dan rindu adalah dua hal yang sangat berbeda namun sama-sama menyakitkan. Apalagi ketika malam-malam begini, rasanya mereka berdua bekerja sama untuk menakut-nakutiku layaknya anak kecil yang dihantui oleh monster pada saat mereka tidur. Bahkan mereka memanggil sayang dan cinta untuk menambah insomnia disetiap malam. Ya, terkadang aku sangat heran, karena bukankah sayang, cinta, rindu, dan benci sangat bermusuhan? Namun mengapa mereka menyatu dalam ruang hatiku?
Mereka memakai jarak sebagai alasan mereka menyatu. Jarak yang membuat mereka menjadi buram untuk dibedakan. Ingin kuungkapkan bedanya namun yang ada hanya bungkam. Tak ada yang salah. Tak ada yang benar. Jarak hanyalah kata.
Terkadang aku tak percaya adanya jarak antara aku dan temanku yang satu ini. Karena kita selalu didekatkan oleh doa. Doa yang menjadi mak comblang ketika kedua bibir sama-sama sembunyi. Doa yang seakan-akan memaksa hati untuk menerima perhatian dan ketertarikan menjadi tamu atau bahkan menjadi pemilik tetap di sana. Tak lupa, doa pula yang membuka sumbat otak untuk mau mengakui bahwa ada aliran listrik yang menyengat pada aliran darah saat disentuh oleh nama masing-masing. Bahkan hingga saat ini, doa masih ampuh untuk selalu menyatukan kami di ruang dan waktu yang berbeda. Dan semoga kelak, doa kami, mungkin juga doa kalian, mampu untuk menyatukan kami selamanya. Amin.
Namun di waktu yang tak jarang juga, terkadang aku juga bisa memaki jarak yang tak berdosa. Ini terjadi ketika sayang, cinta, rindu, dan benci memiliki energi penuh untuk mengerjaiku. Mereka semua tampak beringas dan cukup kuat untuk mencairkan kekuatanku menjadi air mata. Tak ada yang lebih menyakitkan dari itu. Karena obatku hanyalah tatapan mata dan rengkungan lembut yang saat-saat ini sangat mustahil untuk kugapai.
Dengan perih yang kubawa dalam lipatan tangan, tatapan mata yang tadi kurindukan kututup dalam kedua mataku. Setiap kata yang terasa dan (jarang) mampu terucap menggantikan hangat pelukannya. Saat-saat seperti ini aku dapat mengadukan segala hal, terutama mengadukan rindu yang nakal. Bermanja-manjaan dengan Semesta melalui kata, perasaan, gerakan, atau tangisan. Aku yakin Ia mengerti tiap bahasa dan reaksi tubuhku.
Aku tak peduli jika kesempatan ini menjadi kenangan atau pegangan. Karena setiap kali menambah rasa sayang, selalu kuusahakan ingat untuk menambah kekuatan dikala kehilangan. Karena di semua waktu kencan pasti ada pelajaran. Dan karena aku tahu, perpisahan atau penyatuan kelak juga memiliki tujuan.
Intinya, aku sangat merindukannya saat ini. Segala cara kucoba untuk menghibur diri. Untuk melupakannya. Untuk mengalihkan benciku. Dan rasanya……. Sia-sia. Sayang, doamu terlalu kuat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar