Malam semakin merdeka, seperti biasanya. Merebahkan matahari dan segala makhluk yang terus bergerak sepanjang waktu. Tak senikmat biasanya. Bahkan senja pun tak kusapa. Yah, kehampaan bocah menjelang dunia fana mulai merasuki tiap aliran darah. Tak ada cinta. Tak ada benci. Tak ada amarah. Tak ada tangis. Kosong.
Otak sudah muak untuk dipaksa merasakan dan hati sangat lelah untuk berpikir. Benar. Kadang sebodoh itu. Tak tahu fungsi saat mata bosan mendengar kelicikan dan telinga bosan melihat kemunafikan planet yang dinamakan realita ini.
Rasanya terlalu banyak tanah tempatku mengais-ngais mencari potongan diriku yang masih disembunyikanNya. Mungkin sudah tak punya harga lagi ketika harus mengemis pada tiap energi di planet realita ini, mengemis jawaban dari pertanyaan siapa aku ini? Apa yang aku cari?
Halo, Yang Di Sana! Maaf, utusanMu belum berhasil mencintai utusan-utusanMu yang lain dengan tulus. Parahnya, tulus itu sedang berlari menjauh dari tiap-tiap hati. Ada yang bersembunyi, ada yang terbang. Ada yang sudah mati kah? Tak tahu. Sepertinya mereka takut dengan kecewa, sombong, iri, marah, dan pasukannya.
Bisakah Anda melindungi tulus? Dan biarkan aku mengadopsinya sebagai agenku mencari kepingan hati yang hancur. Hhmm. Aku masih percaya walaupun ia lemah ia masih mampu menyembuhkan hati yang hampir punah.
Baiklah. Tentara bintang semakin berhamburan di langit. Memberi belaian hangat nan beracun untuk terlelap tanpa lupa memuji Yang Mengutusku dan semua di sini. Terima kasih untuk kehampaannya, sehingga Engkau memiliki ruang penuh untuk menuangkan Kasih SayangMu yang mulai kering dalam planetku sendiri. Di hati. Di pikiran sadar. Dan alam bawah sadarku. Semoga nafas boleh terus ada hingga diri terkumpul lengkap dengan persenjataannya.
*Lalu tidur*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar