Selasa, 08 April 2014

BAYANG-BAYANG SEMU



Sore ini Mitha duduk diam di depan kamar kosnya sambil cemberut melihat derasnya hujan. Ia kesal karena hujan menghalanginya untuk ikut ibadah pemuda pertamanya di gereja. Mitha belum sempat membeli jas hujan saat baru pindah ke Bali untuk kuliah. Ditambah lagi Ia belum mengenal banyak orang di Bali, salah satunya Tian, pemuda gereja yang dikenalnya saat mengikuti festival pemuda Kristen Bali-NTB saat Mitha masih SMA di Lombok dulu.

“Kak Tian, gimana nih? Hujannya deres banget. Tapi aku pengen ikut ibadah,” rengeknya saat menelpon Tian.

“Waduh, gimana ya. Mobil kakak lagi dipake Axel buat belanja konsumsi nih. Oh! Kamu dijemput Axel aja ya? Ok?,” jawab suara di ujung sana.

“Axel itu siapa kak? Aku ga kenal,” ujar Mitha.

“Dia juga pemuda gereja. Tenang aja. Kakak hubungin Dia dulu ya, entar kakak kasitau lagi. Daah,” lalu telepon terputus.

Mitha semakin cemberut. Kali ini hujan terkutuk baginya. Padahal biasanya Ia suka hujan. Aroma air dan tanah yang bercampur membuatnya merasa nyaman. Namun tidak pada sore ini. Mitha malah gelisah tak karuan. Tak lama, BBM dari Tian masuk,

“Axel uda otw. Tunggu depan kos ya, dik. Mobilnya karimun merah”

Gadis berambut panjang bergelombang itu hanya menjawab iya, kemudian berjalan ke depan pagar menggunakan payung. Ia berdiri di antara hujan dan kembali tersenyum.

Tak lama, mobil karimun merah berhenti di depannya. Seseorang yang bernama Axel itu membukakan pintu depan dari dalam. Mitha masuk dan tersenyum kaku. “Gila, cakep bener ni orang,” pikirnya.

“Mitha?,” panggil Axel dengan nada datar. Mitha menoleh.

“Uda berapa lama tinggal di Bali?,” tanyanya.

“Baru sekitar dua minggu,” jawab Mitha malu-malu.

“Ohh,” balas Axel gantung. Lalu mereka terdiam. Jantung Mitha berdebar-debar, sedangkan Axel memfokuskan pikiran dan matanya ke depan, sedikit gugup karena hanya berdua dengan seorang gadis yang belum dikenalnya dalam mobil.

Sesampainya di gereja, mereka turun dari mobil dan berjalan bersama di bawah satu payung yang dibawa Mitha dari kos tadi.

“Thanks, maaf merepotkan,” ujar Mitha sambil berjalan.

“Iya, lain kali jangan ulangi,” jawab Axel dingin. Hati Mitha seperti ditusuk jarum berkali-kali.

Mitha masih terdiam memikirkan kata-kata Axel hingga ibadah dimulai. Hanya berbincang sesekali saat diajak bicara dengan Tian yang duduk di sebelahnya.

“Rekan-rekan, kita kedatangan teman baru dari Lombok. Hey, ayo maju, kenalin diri,” ucap cewek yang memimpin di depan saat ibadah selesai. Mitha maju dengan malu-malu.

“Malem, temen-temen. Aku Nona Melody Paramitha, biasa dipanggil Mitha. Di sini aku kuliah psikologi di UNUD, tinggal di kos edelways. Thanks,” oceh MItha sambil terus menebar senyum sampai matanya terhenti pada sosok Axel dan cewek di sebelahnya yang sedang berbincang dengan serunya.

Senyumnya berhenti sejenak, namun Mitha kembali tersenyum saat banyak pertanyaan yang dilontarkan anak-anak pemuda baik yang serius maupun hanya godaan.

“Tempat tanggal lahir donk, biar bisa masuk di file pemuda,” pinta salah satu gadis yang duduk di ujung depan.

“30 September 1995,” jawab Mitha.

Selesai perkenalan diri, para pemuda menyambutnya dengan berjabat tangan. Satu  persatu menyalami Mitha dengan wajah gembira. Tak diduga, Axel dan cewek tadi menyalaminya juga. Mitha spontan tersenyum kaku.

“Sofi, UNUD juga, semester 3, Management,” ujar cewek yang bersama Axel saat menyalami Mitha. Mitha hanya membalasnya dengan senyuman.

“Axel,” ucap Axel di tambah senyumnya dengan lesung dikedua pipinya.

Mitha merasa ada yang aneh, Ia tahu dan sadar tentang itu. Namun Mitha mengelak dan berpikir kalau itu hanya muncul karena Axel memang cowok ganteng dengan lesung pipi. Tak mungkin hanya Mitha yang merasakannya.

…

“Halo, Mitha? Ikut yuk!,” Tian menelpon Mitha.

“Kemana kak? Lagi males nih,” jawab Mitha ogah-ogahan.

“Ke GWK. Mumpung gak ujan. Lagi bentar kita jemput ya, dik. Siap-siap yang cepet. Bye!,” celoteh Tian lalu menutup telepon seenaknya.

Mitha membuka lemari dengan malas. Mengganti bajunya dengan kaos putih lengan panjang dan celana selutut. Mitha tak bersemangat, kecuali ada…

Axel. “Kira-kita anak itu ikut gak ya?,” bathin Mitha sambil memasukkan empat barang yang penting menurutnya, yaitu dompet, handphone, topi, dan kacamata. Setelah itu Ia menunggu di kamar.

“Mitha.. Mitha..,” panggil seseorang dari luar kamar Mitha.

“Axel! Terima kasih Tuhan!,” girang Mitha. Ia kenal suara cempreng yang khas milik Axel. Sudah sebulan ini, Mitha dan orang-orang gereja memang semakin dekat. Menurut Mitha, Axel adalah cowok cakep nan angkuh, tapi juga konyol.

Mitha keluar kamar dengan buru-buru dan tidak hati-hati sehingga tersandung dan hampir terjatuh, namun Axel dengan sigap menangkap Mitha. Untuk beberapa detik, Mitha berada dalam pelukan Axel.

Tersadar, mereka salah tingkah dan berjalan keluar kos tanpa suara. Wajah mereka pun sama-sama berubah merah. Mitha senyum-senyum sendiri, dan Axel masih gelisah tak karuan.

…

Sedang asyik-asyiknya bermain kejar-kejaran di antara bongkahan batu besar di GWK, tiba-tiba langit mendung. Padalah hampir setengah hari ini cuaca cerah-cerah saja.

Mitha melihat ke langit. Lalu air entah darimana menetes di matanya. Ia langsung menunduk dan mengucek matanya. Leon dan Axel yang tak jauh dari Mitha langsung mendekat.

“Kelilipan?,” tanya Leon. Mitha menggeleng.

“Cuma ketetesan air aja kok,” jawab Mitha sambil mengedip-kedipkan matanya.

“Tetesan air?,” tanya Axel lalu saling tatap denga Leon. Sepertinya pikiran mereka sama, “Akan turun hujan”

Benar saja. Tiba-tiba hujan dengan derasnya mengguyur GWK. Leon sudah menghilang entah kemana dengan yang lain, sedangkan Axel dengan Mitha masih mencari tempat untuk berteduh. Axel melihat satu pohon kosong.

“Ayo kita ke sana aja, dik,” ajaknya sambil menggandeng tangan Mitha. Mereka berlari menuju pohon yang lumayan jauh dari tempat mereka.

Axel melihat Mitha basah kuyup. Bajunya yang berwarna putih mulai tembus pandang. Ia tak suka melihatnya, jadi Ia lepaskan kemejanya dan memakaikannya pada Mitha.

“Bajumu tipis. Entar kakak dosa hehehe,” goda Axel.

“Ih apaan sih kakak. Jadi takut hahaha,” ujar Mitha.

“Engga apa-apa. Kamu aman sama kakak, dik,” jawab Axel sambil mengacak rambut Mitha. Mitha jadi tersipu malu.

“Lho, kak Sofi mana? Kok ga keliatan?,” tanya Mitha.

Axel terdiam.

“Biarin aja Dia. Dia udah aman kok,” jawab Axel.

Giliran Mitha yang bungkam. Menyesal bertanya hal itu.

“Coba deh kamu liat itu. Siapa yang gak kesel? Dari tadi pagi malah. Seru banget,” celoteh Axel sambil menunjuk ke arah kafe yang di dalamnya ada Sofi dan Tian.

“Mereka Cuma temenan kak,” jawab Mitha.

“Temen ya ada batasnya juga kan,” balas Axel lagi.

Rasanya Mitha ingin menangis saja. Axel berkata demikian, apa Dia juga tak sadar kalau posisinya sekarang juga sama seperti Sofi? Mitha merasa Dia juga pengkhianat.

“Apa bedanya Kak Sofi sama Kak Axel? Sama aja kan situasinya sekarang,” ujar Mitha lirih.

“Dia sih yang mulai. Jangan samain sama kakak lah. Kakak Cuma bales apa yang Dia lakuin aja,” jawab Axel.

Hati Mitha semakin nyeri, “Berarti aku Cuma jadi objek figuran aja kan?”

Axel tersentak. Sadar kalau Ia sudah salah bicara pada bocah ini. Ia merasa bersalah dan tak tahu harus bicara apa.

“Bukannya gitu, dik,” jawab Axel agak bingung.

“Trus apa? Kakak tadi bilang mau bales kan? Aku baru di sini kak, aku gak mau cari masalah, apalagi sama orang gereja, aku…..,” ucapan Mitha terhenti karena Axel sudah mendekapnya. Mitha tak sanggup menahan emosinya. Hatinya yang keras seakan-akan mampu diluluhkan oleh Axel dan mencair berwujud air mata. Ia sakit karena Axel hanya menganggapnya pelarian, bukan cewek yang menyukainya. Mitha tahu ini terlalu cepat, tapi ini juga berlebihan! Ia tak mampu memungkiri lagi kalau Ia benar-benar menyukai Axel.

Axel kehabisan kata-kata untuk meminta maaf, sehingga satu-satunya cara hanyalah memeluk gadis polos ini.

…

Jam menunjukkan pukul dua siang. Waktunya pulang kuliah untuk mahasiswa UNUD. Mitha berjalan keluar kampus. Ia tak perlu menggunakan motornya karena kosnya berada di dekat sana.

Sebuah mobil berhenti di sebelahnya. Kaca mobil turun dan nampak Axel dengan senyumnya. Seketika senyum Mitha mengembang.

“Hai, Nona. Mau bareng?,” sapanya.

“Kosku kan deket dari sini, kak,” jawab Mitha.

“Maksudnya barengan makan siang. Temenin kakak ya,” ajak Axel. Mitha mengangguk lalu membuka pintu belakang mobil.

“Eh, kenapa di belakang? Entar kakak dikirain supir. Duduk didepan dik,” ujar Axel.

Mereka menuju rumah makan di sekitar sana. Di sana mereka membicarakan banyak hal dan terkadang kekonyolan Axel memecahkan tawa keduanya.

“Kakak tadi dari mana?,” tanya Mitha.

“Dari rumah. Cuma lagi pusing aja makanya keluar. Di jalan ternyata ketemu kamu,” jawabnya.

“Pusing kenapa kak?,”

“Lagi berantem sama Sofi,”

“Again?,”

Axel hanya mengangguk. Suasana menggantung sejenak, lalu Axel kembali tersenyum.

“Udah, gak apa-apa. Santai, kita kan mau makan, bukan curhat hahaha,” jawab Axel.

Mitha juga ikut tersenyum. Bodohnya Kak Sofi menyia-nyiakan keberuntungan yang Ia dapat, Mitha membathin.

…

Handphone Mitha berdering. Padahal hari sudah kelewat larut sekali. Mitha menggerutu. Ia meraba-raba meja di sebelah kasurnya dan menekan tombol.

“Halo?,” sapanya berat.

“Selamat ulang tahun, Axel ucapkan. Selamat panjang umur, Tuhan kan berkati. Selamat ulang tahun ya, dik,” terdengar suara di ujung sana bernyanyi dengan nada tak karuan.

“Makasi, kak,” jawab Mitha yang langsung duduk dan tanpa diminta, air matanya sudah menetes.

“Sama-sama dik. Kadonya nyusul ya,”

“Gak usah kado-kadoan, kak. Uda gede. Malu,” jawab Mitha.

Tawa renyah Axel terdengar. Mitha tak menduga kalau Axel ingat hari ulang tahunnya padahal Mitha hanya mengucapkannya sekali pada orang-orang gereja.

Saat telepon ditutup, seseorang mengetuk pintu kamar Mitha. Apa Axel? Harapnya. Mitha membuka pintunya.

“Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday, happy birthday Mitha,”

Tian dan Sofi muncul di depan pintu dengan kue tart serta lilin yang menyala. Mitha tersenyum walaupun sebenarnya Ia heran. Baru saja pacarnya menghubungi Mitha dan kini Sofi malah bersama orang lain. Tapi Mitha buang jauh-jauh rasa ingin tahunya akan hubungan Axel dan Sofi.

Mitha menutup matanya untuk make a wish lalu meniup lilin. Tian memeluk dan mengecup kening Mitha, “Tuhan berkati, adikku”

Sofi agak terkejut dengan perlakuan Tian terhadap Mitha. Ia sangat kenal dengan sahabatnya satu ini. Sofi hanya tersenyum simpul.

“Maaf ya gak ada apa-apa. Masih tengah malem soalnya. Besok aja jalan-jalan sama makan-makannya. Kita ke pantai ya,” celoteh Mitha.

“Karena ini hari spesial Nona Melody Paramitha, oke kita pergi deh. Besok kan hari Minggu. Kita perginya pas puulang gereja ta,” jawab Sofi. Mitha langsung memeluk Sofi.

“Makasi kak. Besok ajakin anak-anak lain ya,” ujar Mitha.

Tian dan Sofi mengacungkan jempol. Tak lama, mereka pamit pulang. Ternyata mereka sudah kongkalikong dengan ibu kos Mitha untuk bertamu malam-malam.

Tian puas, merasa rencananya untuk menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat pada Mitha berhasil. Sepanjang perjalanan Ia tersenyum bangga. Kalau saja Ia tahu, kalau bukanlah Dia yang pertama.

…

“Udah lengkap semuanya nih?,” tanya Sofi. Beberapa pemuda-pemudi yang dekat dengan MItha ikut pergi ke pantai Kuta.

“Oke, peraturannya, gak ada cewek yang bawa motor. Kebetulan Axel sama Tian lagi gak bawa mobil, jadi entar naik motor. Nana sama Benny, Rasti sama Ucup, Winda sama Edi, Mitha sama Tian, Aku sama Axel. Ayo kita berangkat,” ucap Sofi panjang. Sebenarnya Sofi sengaja meminta Axel dan Tian tak memakai mobilnya supaya Tian dan Mitha bisa berdua.

Ada rasa sakit yang mengganjal di benak Mitha. Namun Mitha segera menarik nafas panjang. Ia harus ingat kalau Ia bukan siapa-siapa.

Di perjalanan, mereka semua bercanda. Tian sedikit gugup, sedangkan Mitha sering mencuri pandang ke arah Axel dan Sofi. Mereka berdua tampak serasi. Wajah dewasa Sofi seolah-olah menutupi wajah nakal Axel.

Hari ini memang hoki mereka. Pantai Kuta tidak seramai biasanya sehingga mereka bisa leluasa bermain. Mitha diangkat Ucup dan diceburkan ke pantai. Mereka juga bermain beberapa permainan. Tawa kawan-kawannya membuat Mitha melupakan galaunya.

Saat sore menjelang, anak-anak lain sibuk membakar ikan. Mitha sedang asyik duduk di pinggir pantai. Hari ini Axel sama sekali tak menghiraukannya. Mungkin keasyikan pacaran dengan Sofi. Mitha tak berhak marah. Ia hanya melihat dari kejauhan saja.

“Ngapain sendirian, Nona?,” Tian membuyarkan lamunan Mitha.

“Gak kenapa-napa. Cuma agak capek aja. Aku gak dikasi bantu bakar ikan juga,” jawab Mitha.

“Iyalah. Masa yang ulang tahun yang repot haha,” balas Tian. Mitha hanya tersenyum.

Jantung Tian berdebar-debar, “Btw, udah tiga bulan di Bali, kamu gak naksir siapa kek gitu di sini?,”

Pertanyaan Tian memeras hati Mitha. Ia tersenyum simpul, “Belom mikir ke sana kak. Masih adaptasi soalnya. Hafal jalan di Denpasar aja belom bisa, gimana mau mikirin naksir-naksiran?,”

Tawa Tian pecah. Ia berpikir betapa polosnya Mitha ini. Bahkan Mitha tak sadar kalau Tian naksir Mitha seiring berjalannya waktu.

“Iya sih, semua perlu proses. Kakak juga udah lewatin proses itu lho,”

Mitha menoleh, ”Proses kayak apa ni kak?,”

“Ya proses naksir-naksiran hahaha. Kamu tau gak kalau kakak tu sayang…..,”

“Happy birthday Mitha!,” Benny menyiram Mitha dengan air dicampur tepung dan telur. Tian dan Mitha sangat terkejut. Suasana kembali ramai karena mereka saling kejar-kejaran dengan Mitha. Mitha yang sudah kotor dan bau pasti memeluk siapapun yang berada di dekatnya.

Tian bersandar di pohon kelapa. Bukan waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaannya. Awalnya Ia tak tahu kalau Ia akan menyayangi gadis itu. Namun yang ada, Tian hanya selalu ingin menjaga Mitha.

Mitha masih saja bermain kejar-kejaran. Benny dan Ucup juga masih mengusili Mitha dengan melemparkan telur dan tepung ke arah Mitha. Hingga mata Mitha terhenti pada satu titik.

Nafas Mitha terhenti sejenak. Lalu kemudian pandangannya buram tertutup oleh sesuatu yang basah dan agak panas. Air mata. Ia benci harus melihat pemandangan itu. Ia tak sanggup melihat Axel mencium Sofi.

Mitha berhasil menemukan kesadarannya beberapa detik kemudian dan berlari menuju tasnya.

“Kamu nangis?,” tanya Nana pada Mitha. Tian langsung menoleh dari kejauhan. Ternyata dengan wajah tertutup tepung, Mitha tetap tak bisa menyembunyikan air matanya.

“Engga, tadi mata kena tepung makanya perih,” jawab Mitha bohong.

“Aku ganti baju dulu ya,” lanjutnya sebelum Nana menyerbunya dengan beribu pertanyaan lain, karena suara Mitha berubah karena hidungnya sudah buntu.

“Kakak anter,” Tian muncul lalu menggenggam tangan Mitha. Rupanya Ia langsung khawatir dan berdiri menghampiri Nana dan Mitha.

Mereka berjalan menuju toilet yang lumayan jauh dalam diam. Tian tak tahan dan akhirnya menghentikan langkahnya di tempat yang sepi.

“Kamu kenapa, dik?,” tanyanya.

“Gak kenapa-kenapa, kak,” jawab Mitha.

Tian memegang kedua bahu Mitha, “Liat kakak. Yakin kamu gak apa-apa?,” tanyanya sekali lagi.

Kali ini Mitha tak menjawab. Mitha tetap menunduk. Tak berani menatap mata Tian. Kemudian tangisnya pecah. Tian terkejut dan tak tahu harus berkata apa. Mau bertanya pun juga akan sia-sia. Tian merengkuh tubuh mungil Mitha.

“Gak apa-apa,” ucap Tian lirih sambil mengelus lembut punggung Mitha. Tangis Mitha semakin keras. Tian tak mampu melihatnya. Ia merasa gagal melindungi Mitha. Dan ada satu pertanyaan penting dibenaknya, “Siapa yang ditangisi Mitha?”

…

Mitha merebahkan tubuhnya di kasur. Tugas laporan yang menumpuk membuat otaknya penat. Ia ingin tertidur sejenak. Namun baru saja Ia menutup matanya, handphone-nya berdering. Tertulis di layar, “Axel”

Mitha galau. Mengingat kejadian minggu lalu di hari ulang tahunnya, rasanya sakit sekali. Tetapi tetap saja diterima panggilan itu.

“Halo,” sapa Mitha.

“Dik, lagi di kos?,”

“Iya,”

“Ok,” telepon terputus. Itu saja? Pikir Mitha. Lagi-lagi Ia kesal. Direbahkan lagi tubuhnya di kasur. Tak lama, Mitha tertidur.

Sekitar sepuluh menit berlalu tanpa gangguan, pintu kamar Mitha diketuk oleh seseorang. Mitha mengerang pelan dan menutup telinganya dengan guling. Namun ketukan itu tak berhenti.

Dengan sedikit kesal, Mitha loncat dari kasur dan membuka pintu dengan agak kasar. Nampak Axel dengan senyum tipis namun lesung di pipinya tetap terlihat.

Seketika emosi itu runtuh. Mitha merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya dan memaksa Mitha untuk mengeluarkannya, rindu. Ya, Mitha rindu dengan bocah berwajah playboy ini. Sakit hatinya menguap begitu saja saat melihat senyum Axel.

“Maaf ganggu, dik. Kakak lagi pusing. Boleh masuk?,” tanya Axel.

“Ngga apa-apa. Silakan masuk,” balas Mitha.

Axel masuk ke dalam kamar dan langsung duduk bersandar di pinggir kasur Mitha. Mitha menyiapkan teh hangat dan kue-kue yang ada di kulkasnya.

“Kakak kenapa lagi?,” tanya Mitha lembut setelah duduk di samping Axel.

Axel menghela nafas panjang, “Berantem lagi sama Sofi”.

Teringat lagi kejadian di pantai Kuta, hati Mitha kembali sakit. Namun, Ia buang jauh rasa itu. Kali ini Axel sedang perlu teman dan Mitha merasa Ia tak boleh egois.

“Kenapa kakak bertahan kalo sering berantem?,” pertanyaan Mitha meluncur begitu saja dari bibirnya.

“Kakak sayang sekali sama Sofi. Tapi Dia sering gak ngertiin kakak. Capek, tapi gak rela,” jawab Axel. Mitha terdiam, tiba-tiba buntu.

Suasana menggantung. Mitha dan Axel sama-sama melamun, pikiran mereka melayang dengan jalannya masing-masing, namun pada objek yang sama, Sofi.

Kepala Axel bersandar di pundak Mitha. Nafas Mitha tertahan sejenak. Tubuhnya menegang.

“Santai aja. Kakak ga bakal ngapa-ngapain kok,” ucap Axel sambil tersenyum.

Kemudian tak ada suara lagi. Mitha mencoba menoleh dan ternyata Axel sudah tertidur pulas. Dengan sedikit gugup, Mitha memberanikan diri untuk membelai rambut Axel, kemudian mengelus pipi lelaki jangkung ini.

Ada rasa bahagia yang belum pernah Mitha rasakan saat bersama Axel seperti saat ini. Ia ingin waktu terhenti sejenak saja. Axel, andaikan kakak milikku, lirihnya.

Malamnya, Axel mengajak Mitha makan malam, mereka pergi ke rumah makan tempat mereka makan siang dulu dan duduk di meja dekat jendela kaca.

“Kakak yang traktir. Kan kamu udah nemenin kakak seharian. Ayo makan,” ujar Axel. Mereka makan dengan lahapnya.

“Dik, coba makan spageti kakak. Dijamin deh mantep!,” ucap Axel di sela-sela makannya lalu menyendokkan spageti untuk disuapi kepada Mitha.

“Aku bisa ambil sendiri, kak,” jawab Mitha. Namun Axel tetap memaksa. Akhirnya Mitha mau disuapi Axel. Acara makan malam mereka berlanjut seru, dengan tawa renyah khas Axel yang sering meledak seperti biasanya.

Mereka tak sadar, kalau dari kejauhan ada yang memperhatikan. Sofi. Tadi Ia berniat membeli kue di supermaket di sebelah rumah makan. Tak sengaja melihat Mitha dan Axel saat lewat di depan sana.

Sofi bisa melihat keakraban mereka. Sofi bisa mengerti betapa kesalnya Axel padanya. Ia sudah biasa melihat kelakuan pacarnya yang kekanak-kanakan. Ia juga terbiasa melihat Axel bermain dengan cewek lain untuk memanas-manasinya, sama seperti sekarang. Tapi kali ini Sofi tak akan membiarkan hal ini terus berlarut-larut. Karena Sofi bisa melihat pancaran mata suka Mitha yang sudah Ia anggap sebagai adiknya sendiri.

…

“Tumben ngajak aku makan. Dalam rangka apa nih?,” sapa Tian saat tiba di meja kafe tempat Sofi mengajaknya janjian.

“Gak kenapa-kenapa sih. Aku Cuma pengen kepo sama kamu sekarang ini,” jawab Sofi.

“Tumben, ada apa?,” tanya Tian saat memesan salah satu menu.

“Kamu suka Mitha kan?,”

Tian terkejut, “Eh? Kenapa nanya gitu?,”

“Udahlah aku udah tahu. Santai aja lah,”

Tian menunduk malu.

“Sebagai teman yang baik, aku saranin kamu harus lebih agresif ngejer Mitha, ato langsung tembak aja,” celoteh Sofi.

“Hah?! Mana bisa kayak gitu? Kamu tau kan aku bukan tipe cowok gitu. Aneh-aneh aja. Ada apa sih?,” Tian curiga.

“Aku bingung mau cerita dari mana. Yang pasti, kamu harus cepet-cepet ambil hatinya Mitha kalau kamu serius, sebelum perhatiannya diambil beneran sama orang lain. Aku gak rela, Tian,” jelas Sofi.

Tian makin bingung, “Siapa?”

“Axel”

“Maksudmu, kamu gak rela kalau Mitha ambil Axel? Itu kan hak hati mereka. Aku atau kamu gak bisa maksain donk. Jangan ambil bahagianya orang,” jawab Tian kesal.

“Hei.. hei.. jangan emosi. Ayolah, kita sama-sama dewasa, kita bisa mikir secara luas. Maksudku, emm, gini. Kamu tau sifat Axel kan? Aku sering cerita sama kamu. Sekarang ini, Axel lagi sering kesel sama aku. Dan kalau kita berantem, Dia pasti ke Mitha. Mitha masih polos. Dia gak tau apa-apa, Tian. Aku takut Mitha terlalu jauh berharap kayak cewek-cewek yang pernah dideketin Axel. Aku sayang Mitha,” ucap Mitha panjang lebar.

Obrolan mereka terhenti sejenak karena pelayan kafe membawakan minuman mereka. Sofi meneguk jus jeruknya.

“Kamu tau darimana Mitha suka Axel?,” tanya Tian sedikit lemas.

“Aku bisa lihat sorot matanya waktu sama Axel. Dia ga pinter nyembunyiin perasaan. Harusnya kamu peka, Tian,”

“Ok ntar aku pikirin cara terbaiknya,” jawab Tian. Moccacino di depannya tak lagi terlihat nikmat. Malah terasa hambar di lidahnya. Lagi-lagi Tian merasa gagal melindungi gadis yang Ia sukai. Mitha tak boleh jatuh cinta pada bocah ingusan itu, bathinnya.

…

Hari sudah sore. Axel kini sedang tidur pulas di pangkuan Mitha. Bertengkar lagi dengan Sofi. Mitha tak pernah keberatan jika Axel sering datang. Dua minggu terakhir, mungkin sudah lima kali Axel datang. Alasannya selalu sama, bertengkar dengan Sofi dan perlu teman.

Entah hal apa yang merasukinya hingga Mitha tak sadar kalau perasaan cintanya hanya dianggap teman oleh Axel. Mitha awalnya berkomitmen untuk tidak berharap pada Axel yang sudah memiliki Sofi. Namun Axel selalu membawa cahaya harapan setelah muncul di depan Mitha.

“Tidurnya kakak lama ya?,” ucap Axel terbangun dan duduk.

“Lumayan,”

“Astaga! Sekarang jam berapa?,” Axel terlihat bingung.

“Jam lima kak,” jawab Mitha.

“Kakak harus pulang nih. Papa pulang dari Surabaya, nyampe rumah jam 6. Makasi ya, Mitha. Kakak pulang dulu. Maaf ngerepotin,”

Axel berlalu begitu saja dan Mitha hanya diam. Rasa sayangnya mengalahkan rasa sakitnya. Berkali-kali Ia mencoba lupakan, namun selalu gagal. Malah rasa sayang itu semakin besar.

Lamunannya buyar saat Tian tiba-tiba muncul di depan kamarnya.

“Kita harus ngomong,” ucap Tian tegas.

“Ngomong apa, kak?,” tanya Mitha.

Tian mengambil kursi belajar Mitha dan duduk di depan Mitha yang duduk di kasur.

“Kamu tau kalau ini sudah berlebihan?,” tanya Tian.

Mitha nampak bingung, “Apanya?”

“Kamu tau kan, kalau Axel udah punya Sofi?,”

“Oh, itu. Dia Cuma curhat aja sama aku,”

“Tapi kamu ngarep kan?,”

“Kakak apa-apaan sih?,” tanya Mitha balik.

“Gini, kamu belum tau sifat Axel. Kamu sadar gak kalau Dia cuma dateng pas lagi butuh aja? Apa pernah Dia inget kamu waktu lagi seneng?,” Tian mencoba sabar.

“Udahlah, kak. Kakak gak tau kalo orang yang bikin Kak Sofi sama Kak Axel berantem itu kakak!,” Mitha mulai emosi.

“Kakak tau itu. Kakak diem karena Axel yang gak dewasa. Sukanya cemburu buta. Itu udah biasa, dik. Kakak gak mau kamu sakit hati terus-terusan apalagi berharap...”

“Kenapa? Kakak cemburu? Aku sayang Kak Axel tanpa harus dibales kok. Yang penting Dia ada di samping aku aja itu udah cukup. Kakak gak usah ikut campur!,” potong Mitha emosi disertai air mata yang sudah membasahi pipinya.

Tian tak bisa lagi mengontrol emosinya. Ia paling benci jika perhatian yang Ia beri malah dicampakkan. Apalagi kata-kata “Gak usa ikut campur”.

“Kakak gak tau ya, kamu pake otak atau gak. Kamu sadar gak kalo posisimu sekarang gak ada bedanya sama selingkuhan? Masalah tulus, tulus kalo gak pake logika itu sama aja bodoh,” ucap Tian dengan penuh penekanan karena emosi. Lalu Ia berdiri dan berjalan keluar.

“Oh iya, satu lagi. Iya, kakak emang cemburu. Karena kakak sayang sama kamu,” lanjutnya di depan pintu. Ia menutup pintu kamar Mitha dan pergi.

Kini Mitha berada di posisi paling bawah. Harus diakuinya, semua kata-kata Tian benar adanya. Ia terus menangis menyesali semuanya. Bodohnya Ia, sampai Ia tak sadar kalau Tian menyayanginya.

…


Sudah seminggu waktu berlalu. Mitha tak pernah berkumpul dengan teman-temannya entah di kampus ataupun di gereja. Ia lebih sering mengurung diri di kamarnya, merasa kehilangan, entah apa itu.

Mitha sedang tidur di kasur saat Axel kembali mengetuk pintu kamarnya. Mitha masih merasa terhina sekali. Ia mengingat lagi betapa Axel membuatnya terbang padahal Mitha hanyalah tempat persinggahan. Mitha juga tak bisa lupa dengan rasa sakit yang selama ini Ia pungkiri saat Axel melupakannya ketika Axel rukun dengan Sofi.

“Aku lagi tidur Kak,” teriak Mitha dari dalam.

Pintu terbuka. Sial! Aku lupa menguncinya, jerit Mitha dalam hati. Mitha menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Kamu ngga apa-apa, dik?,” tanya Axel sambil menengok ke kasur.

“Ngga apa-apa,” jawab Mitha menahan tangis.

“Maaf kakak dateng lagi,” ujar Axel.

“Iya gak apa-apa kok. Kakak lagi berantem sama Kak Sofi kan? Kakak tenangin aja pikiran kakak. Aku selalu ada buat jadi pilihan kedua kok, kayak biasanya,” rintih Mitha.

“Maksudmu apa, dik?,” tanya Axel lagi.

Mitha mengambil posisi duduk dan matanya sudah sembab.

“Kakak dateng ke aku waktu lagi berantem sama Kak Sofi. Waktu kakak lagi rukun, gak sedikitpun kakak inget aku. Sebenernya gak masalah. Cuma kakak gak pernah perhatiin sakit hatinya aku. Kakak gak pernah mau tau perasaan sayang aku ke kakak. Padahal Kak Axel terlalu ngasi harapan aku,” jelas Mitha panjang lebar.

Axel tertegun.

“Ini udah terlalu jauh, kak. Kakak harus belajar dewasa. Kakak gak ngerti sakitnya aku. Ya, emang aku yang bodoh. Sekarang cukup, kak. Aku gak mau jadi pilihan, toh aku juga bukan siapa-siapa. Kasian Kak Sofi. Padahal kakak udah beruntung dapetin Dia. Kakak intropeksi diri ya, maaf, aku gak bermaksud sok bijak,” lanjut Mitha lalu berdiri dan memakai jaketnya.

“Kamu mau ke mana, dik?,” tanya Axel. Hanya itu yang mampu Ia tanyakan.

“Aku harus berhenti bermain sama bayang-bayang. Aku mau nyari Kak Tian, karena Dia nyata, bukan bayangan semu kayak kakak,” jawab Mitha lalu berjalan ke luar.

“Oh iya, teh hangat kakak ada di meja belajar, kue-kue juga ada di kulkas. Silakan tenangin diri. Tapi maaf, aku gak bisa temenin lagi,” pamitnya di depan pintu.

“Maaf merepotkan,” rintih Axel menunduk.

“Iya, lain kali jangan ulangi,” jawab Mitha sama seperti ucapan Axel dulu lalu pergi.

…………………………………………………

28 Oktober 2013. Dari hati, dengan letupan rindu untuk Bali ♥

Kamis, 03 April 2014

My Shafa

            Sore ini aku baru saja mengantar Shafa pulang ke rumahnya setelah jalan-jalan seharian. Acara kencan kami cukup menggembirakan seperti biasanya.
            Hubunganku dengan Shafa sangat simple. Hampir tak pernah ribet karena kami berdua tak pernah terlalu ambil pusing akan masalah. Bukannya kami tak saling menyayangi, tapi memang begitulah cara kami menjalani. Aku harus sadar kalau Shafa punya banyak kegiatan dan aku tak boleh mengganggunya. Begitu juga sebaliknya, Shafa mengerti kalau aku bukan tipe cowok romantis dan overprotective.
            “Ntar langsung mandi trus jangan lupa makan ya,” pesanku pada Shafa begitu Ia menyerahkan helmnya padaku.
            “Siap, komandan!,” jawabnya. Sifat Shafa yang masih ababil ini yang membuatku tak pernah bosan padanya.
            Aku mencubit pipi kanannya sebelum menyalakan motorku lalu berlalu. Kulihat di kaca spion Shafa masih melambaikan tangannya.
            Sampai dirumah aku langsung mandi dan makan malam dengan keluargaku lalu pergi tidur. Tak lupa membalas ucapan selamat malam Shafa lewat SMS.
                                                                       
….

            Senin pagi, saatnya menjemput Shafa pergi ke sekolah sekalian berangkat kuliah. Gadis lucu itu sudah menunggu di depan rumahnya.
            “Pagi kak Deva!”, sapanya sambil tersenyum. Ia mengambil helm dan menaiki motorku.
            “Pagi juga”, jawabku.
            “Oiya kak, pulang sekolah Shafa ada rapat OSIS nih, jadi pulangnya agak telat. Sekitar jam lima. Kakak bisa jemput jam segitu?,” tanyanya di perjalanan.
            “Waduh, kakak ntar sore gak bisa jemput. Uda janji mau ngumpul sama anak-anak. Gimana dong?”, jawabku bingung.
            “Eemm yaudah deh. Ntar Shafa numpang sama Andri aja yang sejalur. Gak apa-apa kan kak?,” tanyanya lagi.
            Aku terdiam sejenak. Andri adalah mantan Shafa yang paling Shafa sayangi dulu. Tapi kalaupun aku mau larang, aku tak punya solusi lain.
            “Ok, no problemo, gadis,” jawabku.
            “Tenang aja, Shafa ga doyan sama yang bekas kok,” godanya lalu memelukku.
            Aku hanya tersenyum. Ya, benar kata Shafa. Percaya.
            Cepet besar ya, sayang, bathinku pada anak 17 tahun yang masuk ke gerbang sekolahnya dan aku membuntutinya dengan mataku sampai Ia benar-benar menghilang di antara anak-anak SMA lain.
                                                                        …..

            Jam 9 malam aku baru sampai rumah setelah kumpul-kumpul dengan teman gengku. Kurebahkan badan ke kasur lalu mengambil handphone yang bergetar di saku celana. “Shafa”.
            “Hallooo,” sapanya di ujung sana.
            “Halo. Uda di rumah, sayang?,” tanyaku.
            “Udah dari tadi kok. Kakak udah pulang juga?”
            “Baru aja nyampe. Jadi dianter Andri?”
            “Iya. Tapi tenang aja, Dia ga berani macem-macem kok, takut kali soalnya pacarnya Shafa anak kuliahan hahaha,” candanya.
            “Jangan gitu donk, jadi ngerasa tua banget nih”
            Pembicaraan kami tak berlangsung lama. Karena hari sudah larut, waktunya Shafa tidur dan waktunya aku bermain game.
                                                                        …..

            “Kak, besok kita ga kemana-mana kan?,” Tanya Shafa saat aku hendak memasukkan bakso ke dalam mulutku.
            “Engga, Fa. Kenapa ?,” tanyaku balik.
            “Shafa mau survey bareng temen-temen Shafa ke pantai. Jadi kalo kita ga ada acara, ya Shafa ikut mereka,” jawabnya.
            “Iya kamu ikut aja sama mereka. Kamu kan panitia. Trus besok naik apa? Sama sapa?”
            “Naik motor kayaknya. Ga tau nih. Belom ada temen tebengan”
            “Yaudah besok gimana-gimana hubungin kakak ya”
            Shafa hanya mengangguk lalu menghabiskan baksonya. Padahal gadis ini sebentar lagi lulus, tapi aku tetap merasa dia anak kecil yang masih suka main-main. Rasanya ada yang menggelitik kalau melihatnya bertingkah.
                                                                        …….

            Shafa sama sekali tak menghubungiku sejak tadi pagi. Rasanya ingin menelponnya atau mengirim SMS tapi aku tahu Ia sedang bersama teman-temannya. Apalagi survey, pasti sibuk kesana kemari. Yang ada malah aku akan merusak konsentrasinya.
            Jujur saja hatiku tak tenang. Anak itu pergi dengan siapa saja? Numpang di motor siapa? Udah makan? Udah pake jaket? Astaga begitu banyaknya pertanyaan yang bermunculan di otakku.
            Kontrol, Deva, kontrol. Shafa sudah besar. Hal-hal kecil pasti Ia ingat. Percaya. Aku tidak boleh terlalu protective padanya.
            Kuputuskan pergi bermain band dengan kawan bandku. Kami berkumpul di studio musik langganan kami dan mulai beraksi memainkan berbagai lagu dari yang rock sampai dangdut.
            Tiga jam bukan waktu yang lama kalau sudah berkumpul dengan kawan-kawan apalagi sambil menyalurkan hobi. Tapi bagiku kali ini terasa lama sekali, karena pikiranku hanya tertuju pada Shafa.
            Ini berlebihan. Tapi sebelumnya Shafa tak pernah tak mengirimi kabar seperti ini. Mungkin ini yang membuatku khawatir lebay.
            “Bro, duluan ya,” pamitku.
            “Kenapa cepet banget, bro,” Tanya Robi.
            “Lagi capek nih,” jawabku.
            “Alaahhh boong. Lagi galau kali tuh anak,” sahut Hari.
            “Yah, terserah lah kata kalian. Gue cabut dulu. Bye,”
            Aku memberikan tos pada teman-temanku satu persatu lalu keluar dari studio. Masih sempat mengecek handphone sejenak namun masih saja tidak ada kabar dari Shafa.
Sampai dirumah akhirnya kuputuskan menelpon Shafa pukul 9 malam. Terdengar nada sambung di handphoneku, jantungku dag dig dug.
            “Halooo”, suara Shafa terdengar nyaring
            “Halo, Fa. Uda pulang?,” tanyaku.
            “Udah dari tadi kok kak”, jawabnya polos. Astaga ini anak. Apa Dia tak tahu kalau dari tadi pacarnya ini meras otak mencemaskannya?
            Tapi aku memilih diam saja, ”Oh, uda makan?”
            “Udah kak. Tadi makan pas perjalanan pulang sama temen-temen”
            “Oiya, tadi kamu jalan sama sapa?,” tanyaku lagi.
            “Sama Fabiola, kak. Dia yang udah punya SIM, jadi beraninya sama Dia deh”
            “Oh. Terus gimana tadi? Sibuk banget? Pasti kamu capek kan? Istirahat aja dah, Fa,” ucapku panjang lebar.
            “Capek sih, tapi tadi ga sibuk amat kok. Malah seru-seruan sama anak-anak itu. Kita survey sekalian liburan gitu deh”, ceritanya.
            “Kamu bawa hp?,” tanyaku.
            “Bawa kok”, jawabnya singkat.
Jleb! Kalau begitu apa susahnya sih kasi kabar sebentar saja? Hatiku mulai kesal.
            “Oh iya udah. Kamu istirahat aja deh. Uda malem,”
            “Oke kak. Kakak juga,”
            “Malem, Fa. Kakak sayang kamu,” ujarku kaku.
            Terdengar kekehan kecil disana, “Iya, Shafa juga sayang kakak,”
            “Jangan ketawa donk,”
            “Iya iya kak. Shafa tidur dulu ya kak,”

………..

            Siang ini sangat panas sekali. Ditambah hiruk pikuk banyak orang di kampus yang sedang mengadakan pentas seni dan bazaar. Aku mendapat tugas menjaga stand seharian sehingga tak bisa menjemput Shafa. Syukurnya Dia maklum.
            “Dit, gue laper banget nih. Gue beli nasi ya. Lo mau nitip?,” tanyaku pada Adit.
            “Iya deh. Gue juga laper,” jawabnya.
            Aku menuju stand makanan dan memeriksa dompet. Saat aku mendongakkan kepala lagi, kulihat ada Shafa duduk di kursi belakang stand makanan. Ia sedang asik makan dengan…
            Andri? Lagi-lagi Dia! Seminggu ini Shafa selalu dengannya.
            Aku tak berpikir apa-apa selain membayar nasi dengan segera lalu balik ke standku. Adit mengambil nasinya dan langsung melahapnya, sedangkan aku masih terdiam.
            “Lo ga makan, Va? Tadi katanya laper,” tanyanya.
            Aku hanya menatapnya saja sambil menggeleng. Adit melanjutkan makannya.
            Tak lama, Shafa terlihat menuju ke arahku dengan Andri di belakangnya. Aku bingung harus merespon apa.
            “Hai kak Deva. Duh kasiannya panas-panasan gini seharian. Nih Shafa bawain bakso sama es kelapa susu madu kesukaan kakak,” celotehnya sambil tersenyum.
            Ugh, senyum polosnya selalu membuatku luluh. Aku ikut tersenyum, “Makasi, Fa. Kamu bolos sekolah?”
            Shafa semakin tersenyum lebar, “Mau jawab yang boong ato yang jujur?
            Aku menjewer telinganya, “Nakal”
            “Adududuh, nggak kok. Shafa gak bolos. Tadi emang pulang cepet, ada rapat guru. Tapi Shafa males pulang, akhirnya nyasar ke sini deh,” ucapnya lebar.
            Shafa mampir hanya sebentar lalu pulang ke rumahnya. Aku bahkan tak mau, atau mungkin malas, bisa juga tak berani, menanyakan soal Andri. Seperti biasa, aku memilih diam. Walau mengganjal.

…………

            Chat History between Shafa and me.

Senin
10.00 am
Shafa   : kak, ntr ga usa jmput Shafa. Ada rapat OSIS.
Aku     : ok.

10.00 pm
Aku     : malem, syg. Selamat istirahat.
Shafa   : malem jg, kak. Kk juga.

Selasa
01.30pm
Aku     : uda makan siang? Lg apa?
Shafa   : udah kok kak. Lg ngumpul2 aja nih.
Aku     : oh, yaudah deh.

09.00 pm
Aku     : uda tidur?
Shafa   : belom ka
Aku     : tidur gih, uda malem
Shafa   : ok kak. Malem kak
Aku     : malem syg.

Rabu
06.00 am
Shafa   : kak ntr gausa jemput ya, Shafa bareng papa.
Aku     : ok.

10.00 am
Shafa   : Shafa pulang cepet nih. Kk lg dikampus kan? Shafa bareng Andri aja ya
Aku     : ok. Ati2

06.00 pm
Aku     : lg apa fa? Mau keluar bareng?
Shafa   : yah lg les matematika nih kak
Aku     : yauda lanjut aja. Semangat!

10.00 pm
Aku     : jng begadang, fa
Shafa   : hehe. Malem kak.
Aku     : malem syg.

Bla bla bla like that until 7 days.

………

Sejak acara di kampus seminggu lalu, aku merasa Shafa sedikit berubah. Entahlah, mungkin aku merasa cemburu dengan kedekatan Shafa dengan Andri akhir-akhir ini, takut kehilangan yang lebay.
Shafa mulai jarang mengirim kabar, atau ucapan selamat pagi, selamat istirahat, selamat malam. Kalau dipikir secara positif, aku harus mengerti kalau Dia super sibuk karena sudah kelas 3 SMA. Tapi di sisi lain, kalau memang Dia sibuk, tiap kali memberi kabar, Shafa terlihat sedang santai atau tidak terlalu banyak kegiatan. Harusnya Dia bisa berkomunikasi, harusnya.
            Aku ingin memberitahunya, tapi aku bingung harus memulai dari mana dan atas dasar apa. Aku tak bisa mengatur kata-kata dan takut menyinggung perasaannya, apalagi kalau aku sampai terlihat seperti anak-anak ABG yang masih cengengesan dan egois.
            Seperti sekarang ini, dari pagi, Shafa hanya muncul 2 kali saat aku mengantarnya sekolah, dan siang tadi member kabar kalau Dia ada rapat OSIS. Lalu hilang tanpa kabar. Sekarang jam menunjukkan pukul 8 malam. Aku lelah menunggu, kutelpon Shafa. Tak lama,
            “Halooo,” suara Shafa terdengar kurang jelas.
            “Lho? Kamu uda tidur?”, tanyaku dengan perasaan tak enak.
            “Iya kak. Capek. Maaf ya ga ngasi kabar,” lalu telepon terputus begitu saja.
            Kucoba miss call lagi, namun nomornya tak aktif. Shafa, kamu berhasil buatku benar-benar kalut sekarang. Kalau memang bosan, tolong ngomong baik-baik. Jangan seperti ini, emosiku melunjak. Tak bisa berpikir positif lagi.
            Setelah beberapa kali berusaha menelpon dan tak ada hasil, aku menyerah.

……….

            Paginya aku menuju rumahnya. Tapi tak ada Shafa di depan rumahnya. Yang ada hanya bibinya yang sedang menyapu halaman depan.
            “Shafanya mana, bi?,” tanyaku.
            “Nona udah berangkat dari tadi pagi sekali. Pake baju bebas sih, katanya ada acara di pantai Sire sana. Memangnya mas Deva gak tau ya?,”  tanyanya balik.
            Aku hanya menggeleng sambil tersenyum, “Yaudah, bi. Saya berangkat dulu ya,” pamitku.
            Bibi tersenyum lalu melanjutkan menyapu. Aku memakai helm dan menyalakan motor. Shafa, Shafa, dan Shafa. Hanya itu yang ada dipikiranku.
            Motorku melaju kencang bukan ke arah kampus, tapi ke arah pantai Sire yang jaraknya tak dekat. Aku pergi ke sana dengan modal nekat saja. Sudah cukup untuk dipendam sendiri. Sekarang aku hanya berharap pada keberuntungan saja. Dewi fortuna, tolong berpihak padaku kali ini.
            Setelah sekitar 2 jam perjalanan, akhirnya aku sampai di lokasi outbond tempat sekolah Shafa mengadakan acara. Aku melihat dari kejauhan, menelusuri satu persatu wajah banyak siswa.
            Kutemukan sosok gadis lucu itu sedang mennyiapkan game untuk para peserta lomba. Ia sedang kesusahan meniup balon-balon. Aku hendak ke sana untuk membantunya, namun mengurungkan niat saat melihat Andri datang padanya dan membantu Shafa. Aku benar-benar cemburu pada laki-laki ababil satu ini. Dan curiga. Kenapa Dia kembali mendekati Shafa?
            Aku diam diatas motorku sampai waktunya siswa-siswa istirahat. Shafa sama sekali tak menyadari keberadaanku. Atau tak mau menyadari. Kembali kupertimbangkan untuk mengajaknya bicara. Masih saja ada rasa takut itu. Tapi kalau begini terus, aku akan menyiksa diriku sendiri.
            Lama menyiapkan mental, dengan jantung dag dig dug, kuhampiri Shafa yang sedang meneguk esnya dengan Andri dan kutarik tangannya, mengajaknya sedikit jauh dari keramaian.
            Shafa menatapku diam. Lagi-lagi aku bingung harus memulai darimana. Kata-kataku yang sudah kuatur sedemikian rupa seperti menguap begitu saja saat menatap mata Shafa.
            “Kenapa, kak?,” tanyanya akhirnya.
            “Ini berlebihan, Fa,” ucapku akhirnya.
            “Apanya?,” tanyanya lagi.
            “Sikapmu, perasaan kakak, Andri, semuanya,” jawabku agak ngos-ngosan.
            Shafa masih memasang muka datar dan diam saja.
            “Kakak gak tau kakak salah apa, tapi kakak ngerasa kamu ngejauh sama kakak. Kamu ga pernah cerita apapun sama kakak sekarang. Trus ditambah lagi kamu susah dihubungin, sekalinya dihubungin pasti ada nama Andri disana. Kakak ga mau bilang gini, tapi, kakak khawatir, kakak cemburu. Mungkin kakak terlalu childish, tapi kakak ga bisa boongin hati sendiri kalo kakak takut kamu pergi. Kalo kamu bosen tolong bilang sama kakak, jangan bikin kakak bingung gini,” celotehku panjang lebar lalu menutup mukaku dengan kedua tanganku. Bisa dipastikan mukaku merah sekarang. Malu.
            Shafa tak mengucapkan sepatah katapun. Setelah merasa lebih baik, aku membuka mataku dari kedua tanganku.
            Shafa sedang cengar-cengir usil melihatku.
            “Please, Fa, kakak ga main-main,” mohonku.
            “Shafa juga ga main-main kak. Ini yang Shafa tunggu dari kakak. Emang bener Shafa sengaja jarang ngasi kabar kakak, tapi Shafa ga bermaksud ngilang apalagi putus. Selama ini Shafa ngerasa Shafa terlau agresif, sedangkan kakak sebaliknya. Shafa pengin tau, kalo Shafa ga hubungin kakak duluan, kakak hubungin Shafa gak? Trus kakak juga kebanyakan diemnya, Shafa jadi ga tau kakak itu lagi marah ato seneng ato apa kek gitu. Shafa jadi penasaran. Makanya Shafa kayak gini,” ujarnya.
            “Fa, semua kan ga mesti dibilang. Kakak juga ga mau kamu keganggu sama kakak. Apalagi kamu uda kelas 3 gini. Kakak ga mau kayak anak kecil. Kamu ga agresif kok. Kakak seneng kamu kayak dulu,” jawabku.
            “Semua ya perlu dibilang donk, kak. Supaya kita bisa saling ngerti. Ngungkapin sesuatu juga bukan masalah dewasa ato engganya orang kan. Shafa pengen kakak lebih terbuka sama perasaan kakak. Itu aja. Kalo gini kan Shafa jadi tau kalo kakak beneran sayang sama Shafa hehehe,” godanya.
            “Kamu emang penuh kejutan, Fa,” ucapku lalu memeluk gadis belia ini.
            “Oiya, tadi malem Shafa emang beneran ngantuk, HP Shafa jatuh trus gamau nyala lagi, ntar diservice. Masalah Andri, Shafa emang minta tolong Dia buat bantuin Shafa buat misi ini, biar tambah greget hahaha,” lanjut Shafa.
            Aku memeluknya makin erat. Aku jadi merasa Shafa lebih cepat dewasa ketimbang aku. Yah, selain percaya, ternyata terbuka juga tak kalah penting dalam menjalani hubungan.