Menit demi menit
menghilang. Hampir tak ada sia-sia. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Kamu
dan aku pun demikian. Tak ada perpisahan, yang ada hanya pemanis di tiap
waktunya. Menikmati hari hari bagai anak SMP yang baru pertama kali memiliki
teman kencan. Sesekali berusaha meniti apa yang sudah direncanakan dalam
bercanda.
Sekilas tak ada
yang aneh. Semuanya sempurna. Apa kamu tahu? itu adalah kesalahan. Karena tidak
ada sesuatu yang sempurna. Ya, ada noda yang berusaha kusembunyikan. Si kecil
yang bisa membesar suatu saat nanti.
Hati ini pernah
hancur, sekali, saat boneka masih kuanggap sebagai diriku sendiri. Butuh ruang
dan dimensi yang luas untuk ku bisa mengumpulkan tiap kepingan dan
membentuknya kembali. Kamu tahu rasanya daging yang terkoyak lalu dijahit?
Rasanya mungkin lebih dari itu. Dan, bentuknya tak pernah kembali sempurna,
perekatnya pun tak bisa menempel dengan baik, karena aku sangat masih kanak-kanak dan belum tahu apa itu kecewa. Sehingga sangat memungkinkan
untuk hancur lagi. Sejak saat itu, benteng dari otak semakin kutinggikan mengikuti jejak usiaku, karena
hanya itu yang aku punya. Lemahnya bagianku tersebut syukurnya tak membuat
pikiranku ikut layu.
Dan, benteng
dalam diriku bisa rubuh juga, karena senyuman dan ketulusanmu. Aku tak ingat kamu
datang dari mana, karena yang ada dalam kepalaku saat itu, kamu pasti dari
langit. Atau bahkan salah satu dari malaikat baik. Dengan mudah, aku berbagi
semuanya. Segala yang ada dalam diriku dari masa lalu dan sekarang.
Mempercayakannya padamu. Tanpa kusadari, pikiran singkat seperti itu yang
membimbingku dalam kehancuran ini. Karena aku lupa, jauh sebelum kita
bertemu, kamu juga manusia yang jauh dari kata sempurna.
Ekspektasiku padamu
setinggi bintang, sehingga waktu kamu menjatuhkan harga dirimu oleh masa lalumu,
aku pun ikut jatuh di masa kini. Karena kamu sudah terlanjur mendominasi
diantara darahku. Tak adilnya, kamu sudah bisa bangun sendiri karena pengalaman
membuatmu kuat. Dan aku? Bentengku sudah rubuh. Sudah kukatakan, hati ini masih
ringkih, dan tak perlu usaha banyak, sudah kembali hancur karena sisi gelapmu. Walaupun aku tahu kamu
tak bermaksud untuk menyakiti, namun luka karena kepingan yang hancur itu tetap saja menganga. Aku tak bisa
menemukan ruang dan dimensiku seperti dulu, karena semuanya adalah dirimu, yang
bagai lautan entah kemana arah mata angin berhembus membuat gelombang, entah
seberapa luasnya aku tak paham, yang selalu membawa mentari datang dan pergi. Sehingga
tak memungkinkan untukku menemukan kepingan perasaan. Dan semua terjadi
sesingkat sapaan senja.
Ekspektasi terlihat
seperti suatu hal kecil, namun kekecewaan karenanya sudah terbenam dalam diriku
sekian lama kita bersama. Rasanya semua hanya seperti bom waktu yang bisa
meledak kapan saja. Tinggal menunggu kapan detik yang tak terdeteksi itu habis
sehingga melenyapkan apa yang telah kita lalui. Tidak ada yang tersisa, baik kamu maupun perasaanmu, aku maupun kenanganku.
Senjaku kini
berbeda, begitu lama waktu kulewati tanpanya. Karena terlalu dalam masuk hingar
bingar duniawi. Karena memang sepantasnya demikian. Karena senja telah mengambil
segalanya dariku. Karena senja telah membawa pergi hatiku, hingga yang ada
hanya kepala tanpa hati.
-random thought-
December 30th
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar