Rabu, 18 September 2013

senja di halte bus



Sore ini, seperti biasanya aku berjalan dari sekolah menuju halte bus di dekat sana. pelajaran baru saja selesai dan aku benar-benar kelelahan, yah, sudah resiko murid yang masuk sekolah di kelas siang. Indahnya senja di ufuk barat terkadang bisa menghapuskan semua kelelahan dan kepenatan yang kurasakan di kelas. Aku menyukai senja. Warna jingga yang anggun seakan mampu menenangkan suasana hatiku yang kacau.

Sambil menikmati suasana senja, aku duduk di halte bus. Menunggu bus terakhir yang selalu membawaku pulang ke rumah hampir setiap hari, kecuali hari Minggu, tentunya. Biasanya aku duduk sendirian di sini. Namun berbeda dengan hari ini. Aku ditemani oleh seorang lelaki muda yang duduk sedikit jauh dariku. Sepertinya Ia sedang asyik mendengarkan mp3 yang dipegangnya sehingga Ia tak sadar bahwa ada gadis yang memperhatikannya. Aku.

Sesekali Ia menggoyangkan kepalanya tanda bahwa Ia menikmati musik di telinganya. Terkadang bibirnya juga tersenyum atau mengikuti lirik lagu yang Ia dengarkan. Rambutnya yang gondrong sebahu Ia kuncir satu dibelakang. Semua nampak biasa saja, tetapi aku tak bisa melepaskan pandanganku padanya.

Aku terkejut saat Ia menoleh ke arahku. Aku terlalu terpesona hingga tak tahu kalau Ia merasa terganggu dengan tatapanku. Wajahku terasa memanas dan aku yakin warna mukaku sudah berubah menjadi merah. Spontan saja aku membuang muka lalu menunduk malu. Bukannya ke-PD-an, tetapi aku merasa diperhatikan oleh lelaki ini. Aku jadi gugup dan salah tingkah walaupun aku tak menatap matanya. Kami terdiam selama beberapa menit sampai bus datang dan aku langsung berdiri memasuki bus tanpa melihat ke arah lelaki tadi.

Selama berada dalam bus, masih saja aku terbayang wajah lelaki itu. Lekuk-lekuk wajahnya dari samping, yang membuatku terpana. Ahh.. tak usah berpikir macam-macam, ini hanya kebetulan, dan biasa terjadi pada semua gadis kalau melihat lawan jenis yang cakap. Belum tentu di waktu selanjutnya bisa bertemu lagi. Jadi, kukubur saja bayangan semu wajah sejuk itu.

                                                            …………………                                                       

Perjalanan menuju halte bus terasa panjang. Padahal jarak halte dari sekolah hanya sekitar 20meter saja. Tak tahu mengapa, di hari baru ini, aku berharap bertemu dengan lelaki kemarin. Lelaki yang kutemui d halte bus. Aku lelah memungkiri perasaanku bahwa aku tak memikirkan, kalau nyatanya aku selalu terbayang sosoknya. Hatiku berdebar cepat pelan seiring langkahku membawaku ke halte. Padahal ini terlalu cepat. Aku tahu itu, namun enggan menyadarinya.
Deg!
Jantungku berhenti berdetak. Lelaki itu sedang mendengarkan musik lagi, seperti kemarin. Kali ini Ia menggunakan kaos putih transparan yang memamerkan betapa bagusnya lekuk tubuhnya. Celana jeans selututnya memperlihatkan kakinya yang lenjang dengan sedikit bulu kaki yang tak panjang.

Aku duduk di paling ujung kursi halte. Aku tak mau mencari malu karena gugup atau salah tingkah di hadapannya. Namun lagi-lagi, aku merasa ditatap olehnya. Entahlah, mungkin aku yang terlalu paranoid. Terus saja aku menunduk.

Tunggu dulu!
Ia memang melihatku. Aku bisa melihatnya dari layar handphone-ku. Ia sekarang sedang berdiri dan… menuju ke arahku! Oh, please, nafasku terasa berat sekali. Hidungku tak mampu menghirup banyak oksigen secara tiba-tiba.

Ia hanya diam tepat di sebelahku. Hanya menatapku tajam. Apa aku melakukan kesalahan? Aku rasa tidak. Apa jangan-jangan dia juga ingin berbicara denganku? Ah, jangan GR. Tapi, kenapa Ia hanya diam? Apa harus aku yang memulai pembicaraan? Ahh, terlalu cepat untuk kulakukan.

Tidak. Aku adalah seorang gadis. Harus gengsi. Biarkan saja dia memulai duluan kalau memang Ia ingin berbicara denganku. Namun tubuhku berkata lain, sendi-sendiku malah menggerakkannya ke arah belakang. Kini aku menatapnya dan Ia juga. Mata kami benar-benar bertemu, darahku terasa mengalir deras.

5 menit berlalu. Kami tetap saling tatap dan membisu. Aku duduk dan Ia berdiri dihadapanku. Aku tak tahu harus memulai dari mana pembicaraan kami. Bahkan hanya untuk sekedar melemparkan senyum pun, aku tak mampu. Akhirnya lelaki jangkung itu tersenyum lalu pergi ke arah mentari terbenam. Berjalan seiring tenggelamnya matahari.

                                                            …………….                    

                  
Kejadian ini sudah berlangsung seminggu. Aku dan Dia selalu bertemu di halte bus pada sore hari dan selalu diam. Walaupun sudah lama waktu terlewat namun tak sepatah katapun terucapkan. Jujur, aku sangat ingin memulai duluan, tetapi gengsiku terlalu tinggi, dan juga aku tak mampu berucap saat ditatapnya.

Sore di hari Sabtu ini, aku dan dia duduk berdua (lagi), hanya saja ada yang berbeda. Ia duduk di dekat tempatku biasa duduk sehingga jarakku dengannya sangat dekat. Aku berusaha mengucapkan ‘hai’ atau ‘halo’ atau ‘apa kabar’ yang sudah kurencanakan di rumah. Tapi ternyata sulit melakukannya saat berada disampingnya.

Kuberanikan diri menoleh ke arahnya. Oh, Ia sedang mendengarkan musik seperti hari-hari kemarin. Kini rambutnya Ia biarkan tergerai dan angin yang nakal mengusiknya.
Ia menoleh, mata kami bertatap.
“hai”, ucapnya sambil tersenyum ramah.
Aku benar-benar terkejut hingga lupa menjawabnya.
“hai juga”, jawabku lama. Bisa kujamin, kali ini mukaku berubah merah lagi. Kutundukkan kepalaku sampai rambut menutupi wajahku.

Namun hoki tidak dipihakku, bus terakhir datang dan lelaki itu langsung beranjak masuk ke dalamnya. Harusnya aku yang masuk dalam bus itu, bukan dia. Karena selama ini, selalu aku yang meninggalkannya, bukan Dia.

Saking bingungnya, aku tertinggal bus itu. Aku mengumpat selama perjalanan. Tetapi, ada satu hal yang lama tak kurasakan di jalan ini. Senja. Aroma tanah dan rumput yang masih basah akibat hujan tadi siang, ditambah warna keemasan senja, haaaahhhh.. aku sangat menyukainya. Jadi, kunikmati saja perjalananku sambil mengingat halusnya suara lelaki tadi menyapaku. Aku bahagia.
                                                                        ………………
Hari ini hari Minggu. Bukan waktu sekolah. Tapi aku tetap berjalan menuju halte bus. Entah pikiran gila apa yang merasukiku. Sekarang aku berada dalam bus menuju halte, dan jantungku berdegup kencang, sangat kencang. Hari ini aku mau berbicara dengannya. Harus. Aku sudah bertekad.
Bus berhenti dan aku turun. Benar saja, Ia ada disana sambil mendengarkan musik dan menggendong tas ransel di punggungnya. Aku duduk tepat di sebelahnya.
“Ini hari Minggu, bukan?”, tanyanya tiba-tiba.
“Memang”, jawabku lalu menoleh ke arahnya, ternyata Ia sudah menatapku. Aku tersenyum. Yes! Aku berhasil melakukannya.
“Lalu mengapa kau di sini?”, Ia bertanya lagi.
“Hanya mencari ketenangan senja”, ucapku.
Ia tertawa, “Kupikir aku sendiri yang mencarinya. Dan kau temukan itu di sini?”
Aku mengangguk malu.
“Kita sama”, ujarnya. Lalu kami kembali terdiam.
Tak lama, Ia menarik nafas panjang,
“Ternyata hari ini memang hokiku. Ini untukmu”, ucapnya setelah berdiri dan mengeluarkan amplop biru dari sakunya, tersenyum sedikit lama, lalu melangkah pergi dengan santai tanpa menatapku kembali.

Aku terus membuntutinya dengan mataku sampai bayangannya benar-benar menghilang di sudut mataku. Aku membuka amplop manis itu, dan mulai membacanya,


Dear gadis halte,
Aku memiliki hidup yang membosankan. Bahkan aku tak betah di rumahku sendiri. Akhirnya aku memutuskan pergi sendiri ke halte bus ini Senin lalu, dan kau datang dengan wajah lelahmu. Aku langsung terpana melihatmu. Namun kau hanya diam tak menatapku. Dari seragammu, aku menebak bahwa menunggu di halte bus adalah rutinitasmu.
Esoknya aku ke halte lagi. Benar saja, kau ada di sana. Entah rasa apa yang merasukiku hingga aku seperti ini. Aku suka padamu. Tapi tak sedikitpun kau mau melirikku. Itu cukup membuatku sadar bahwa aku mengganggumu. Apalagi setelah kemarin aku tahu bahwa kau selalu mencari ketenangan di halte ini sendirian.
Aku berharap aku bosan melakukannya seperti yang biasanya kurasakan. Tetapi setelah seminggu, ternyata rasa bosan itu tak sedikitpun muncul. Yang ada malah aku semakin penasaran denganmu. Hingga aku berani menyapamu terlebih dahulu, tahukah kau bahwa itu memerlukan tenaga yang sangat banyak? Aku harus melawan debar jantungku yang hebat terlebih dahulu. Ini adalah pertama kalinya buatku.
Namun responmu tetap sama seperti biasanya. Hanya menjawab seperlunya lalu pergi begitu saja. Rasa kecewaku kuluapkan dengan cara meninggalkanmu sendirian kemarin. Maafkan aku.
Hari ini, aku bertekad ingin mengajakmu berbincang. Aku tak mampu menahan hal bodoh yang terlalu cepat dan spontan kurasakan. Jika aku berhasil melakukannya, berarti aku berhasil memenangkan hatiku dan surat ini sudah ditanganmu. Namun jika kali ini gagal, biarlah surat ini kuletakkan di halte bus dan membiarkannya terbang bersama angin di ufuk senja.
Gadis, aku sangat tidak jantan, bahkan aku tak tahu siapa namamu. Aku tahu kau tidak menyukaiku. Jadi, maafkan aku karena aku mengganggu sumber ketenanganmu sepanjang minggu ini. Aku hanya salah satu penggemar bisumu yang tidak gentle. Kali ini aku akan berhenti mengusik hidupmu, jadi aku harus melanjutkan perjalananku di sisa hidupku yang tak panjang karena penyakitku sendiri lagi walaupun berat rasanya. Selamat tinggal..

Pemujamu, Marchell


Marchell bodoh! Aku bodoh! Kau sama sekali tidak mengganguku, aku juga merasakan hal yang sama. Penyesalan datang bertubi-tubi padaku. Hati dan pikiranku mengutuk gensi yang kutinggikan selama seminggu ini.
“aku menyesal..aku menyesal..”, rintihku.
Aku berlari mengejar Marchell yang entah sudah seberapa jauhnya. Aku menembus langit jingga dan keemasan mencari Marchell, namun Ia sudah pergi jauh karena aku tak menemukannya.
“Marchell, dimanapun kamu, siapapun kamu, aku berterima kasih karena sudah membuat hatiku berdebar dan berbunga. Terima kasih juga sudah menyadarkanku untuk tidak gensi, dan terima kasih atas kehilangannya. Aku bisa mengerti bertapa yang berharga harus kujaga dan kupertahankan. Semoga kau baik-baik saja selama hidupmu. Selamat tinggal juga”, lirihku menatap warna keemasan yang mulai menghilang dan berganti gelap dengan pancaran bintang.

Setelah hari itu, aku tak pernah menemuinya lagi. Ia tidak ada di halte bus tempat kami pertama bertemu dan tempat kami berpisah. Aku tetap menunggu bus di sana setiap hari, sekaligus berharap bertemu lelaki yang kuketahui bernama Marchell itu lagi, hingga aku lulus SMA. Memang tidak membuahkan hasil, tapi paling tidak, Ia sempat memberi warna dan kenangan di halte bus ini. Suatu senja di halte bus...

Selasa, 17 September 2013

AYAH BOLEH MENANGIS

Senja menyapa malam
Angkasa memerah bak kelelahan
Matapun mulai menyapu sunyi
Terlihatlah sosok kuat, duduk terkulai di kursi

Apa kau lelah, Ayah?
Apa kau muak, Ayah?
Apa kau marah, Ayah?

Lidahmu sumber kebijaksanaanku
Bahkan sorot matamu yang lesu
Adalah akar semangatku

Menangislah, Ayah !
Menangis adalah awal senyuman
Bebanku cukup ringan untuk kau tanggung sendiri
Ayah boleh menangis, bersamaku



dibuat saat mengerjakan tugas bahasa Indonesia

Selasa, 10 September 2013

desain grafis

kepada yang tersayang cece Nellly, maaf baru masukin foto hasil scan tugas pertama. hehe
gak tau yah apa artinya, secara tiba-tiba otak maunya gambar ini, tapi, rasanya yang tengah sengaja gak tak warnain, anggepannya putih itu awal dari warna, trus iikutin warna-warna dasar: RGB(red, green, blue), udah gitu dari tiga warna ini jadilah warna-warni di gambar ini. hahaha. gamar ini juga mewakilkan hidup kayaknya :D
thank youuuu :*