Minggu, 18 Januari 2015

RAIN

Siang ini hujan lagi. Bulan Desember memang identik dengan musim hujan. Sama seperti pemikiranku, yang saat ini sedang duduk didekat jendela menikmati hujan diluar sana. Aku merasa ada yang kurang apabila tidak ada rintik-rintik air di akhir tahun seperti ini.

Semenjak hujan pertama di tahun ini, aku lebih sering menghabiskan waktu dikamar demi melihat hujan daripada melakukan aktivitas lainnya. Bahkan aku malas untuk menemui wanita yang akhir-akhir ini mengaku sebagai temanku, Dara. Aku sedang kesal padanya.            

Aku ingat, kemarin aku hendak keluar untuk bermain hujan karena aku sangat menyukainya. Papa mama tahu aku sangat senang bermain hujan. Begitu juga kak Po. Harusnya Dara juga tahu kalau aku menyukainya. Namun Ia melarangku. Bahkan dengan teganya menghempaskan tubuhku ke kasur. Tunggu. Hanya itu yang kuingat.            

“Makan siang sayang?,” suara mama terdengar dari ujung pintu kamar.            

Aku menggeleng.            

“Mama tunggu di ruang makan ya,”            

Aku hanya menoleh ke arahnya lalu tersenyum mungil sebelum Ia benar-benar meninggalkanku di kamar dan melanjutkan lamunanku.            

Aku sedang menggambar seorang gadis di kaca jendela yang berembun sampai tiba-tiba aku melihat gadis kecil berusia sekitar 10 tahun dengan rambut panjang yang dikepang dua di luar sana. Ia menggunakan jas hujan berwarna pink dengan payung biru kecil yang tidak melindungi kepalanya dari serangan air itu. Payungnya sangat mirip dengan payungku sewaktu kecil. Berwarna biru dan memiliki renda-renda sebagai hiasannya.            

Gadis itu menari-nari bak penari balet professional dengan sesekali mengangkat payungnya ke udara sambil melompat. Aku suka menari. Gadis ini membuatku senang. Aku ikut tersenyum. Tak sadar, aku tertawa kecil. Namun aku juga mendengar tawa gadis itu. Mungkin aku salah mendengar. Aku diam. Lalu mencoba tertawa lagi untuk meyakini aku tidak salah. Lagi-lagi kudengar suara tawa gadis di luar sana.            

Bingung. Kuperhatikan gerak-gerik gadis yang tidak bisa diam itu. Lekuk tubuh dan senyum serta pancaran matanya tak asing diingatanku. Kucoba mengingat-ingat hingga sakit kepala dan kupukul-pukul kepala dengan kepalan tangan kananku.            

Gadis payung menoleh ke arahku dan tersenyum lebar lengkap dengan lesung dikedua pipinya. Hey! Itu aku. Iya, aku yakin sekali gadis itu adalah sosokku waktu kecil. Ia melanjutkan tariannya di tengah hujan.

Seketika aku mengingat kejadian ini di waktu lampau. Aku memenagkan lomba menari balet nasional. Saat itu musim hujan di awal bulan Januari. Mama dan papa sangat senang sekali. Bahkan kak Po menghadiahkan aku sepatu balet dan sepeda baru. Mulai saat itu, aku bermimpi untuk terus menari sepanjang hidupku. Aku tidak bisa melupakan gerakan-gerakan yang kuperagakan saat mengikuti lomba. Saat hujan tiba, aku bermain di 
halaman rumah seperti yang gadis ini lakukan.

Bahkan sampai sekarang aku masih hafal gerakan-gerakan itu. Melihat gadis itu, aku jadi mulai mengikuti gerakan-gerakan yang Ia lakukan. Sesekali gerakannya salah atau terpeleset karena tanah yang licin. Dan aku tertawa melihatnya tanpa menghentikan gerakan yang kulakukan dari sini.

Setelah lumayan lama menari diantara hujan, tiba-tiba gadis ini berhenti menari. Sepertinya aku tahu apa yang hendak dilakukannya. Aku memasang posisi waspada dan tegang.

Benar! Iya mengambil sepedanya di garasi. Aku tahu maksudku saat itu adalah memanggil teman-temanku untuk ikut bermain hujan bersamaku lalu mengajari mereka menari. Aku melihatnya berhasil mengeluarkan sepeda. Aku tak mau melihat kejadian ini. Aku berusaha berlari keluar rumah dengan kaki kiri yang sakit sekali karena kaki palsu sambil berteriak, “Tunggu, jangan pergi! Tunggu!,”.

Lagi-lagi aku berhasil melewati orang tuaku dan kak Po serta Dara di ruang tamu untuk membuka pintu depan. Aku bisa melihat ekspresi mereka yang terkejut lalu ikut berlari.

Aku langsung menuju pagar depan yang berhadapan langsung dengan jalan raya yang selalu ramai untuk menahan gadis itu. Namun seseorang tiba-tiba menahan tangan kiriku di depan pagar lalu memelukku erat sekali sampai aku kesakitan.“Lepasin! Sakit! Nanti anak itu ditabrak mobil! Lepasin!,” rontaku sambil menangis membayangkan gadis payung.

“Rain, tidak ada siapa-siapa. Lupakan kejadian lalu itu. Kamu tetap penari hebat bagi kami apapun keadaanmu sekarang. Ayo sadarlah!,” suara kak Po terdengar keras di telinga kananku. Ia terus memelukku sampai kami tiba di dalam rumah. Seperti biasa, Dara hanya melihatku dari dekat sambil tersenyum, “Kamu tetap yang terbaik, Rain. Kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau. Kamu harus menerima semuanya”.

Tiba-tiba aku merasa semut menggigit lengan kananku dan aku merasa pusing serta lemas. Aku menutup mata dan merebahkan tubuhku di tubuh kak Po. Sayup-sayup kudengar rintihan mama,

“Kecelakaan yang merenggut kaki kirinya itu sudah lewat dua tahun tapi Ia tetap tidak bisa melupakannya. Semakin hari obsesinya semakin besar untuk menjadi penari. Dan hujan kembali membuatnya mengingatnya. Kita harus bagaimana lagi, dokter Dara?,”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar