Sore ini, seperti biasanya aku berjalan dari sekolah menuju halte bus di dekat sana. pelajaran baru saja selesai dan aku benar-benar kelelahan, yah, sudah resiko murid yang masuk sekolah di kelas siang. Indahnya senja di ufuk barat terkadang bisa menghapuskan semua kelelahan dan kepenatan yang kurasakan di kelas. Aku menyukai senja. Warna jingga yang anggun seakan mampu menenangkan suasana hatiku yang kacau.
Sambil menikmati suasana senja, aku duduk di halte bus. Menunggu bus terakhir yang selalu membawaku pulang ke rumah hampir setiap hari, kecuali hari Minggu, tentunya. Biasanya aku duduk sendirian di sini. Namun berbeda dengan hari ini. Aku ditemani oleh seorang lelaki muda yang duduk sedikit jauh dariku. Sepertinya Ia sedang asyik mendengarkan mp3 yang dipegangnya sehingga Ia tak sadar bahwa ada gadis yang memperhatikannya. Aku.
Sesekali Ia menggoyangkan kepalanya
tanda bahwa Ia menikmati musik di telinganya. Terkadang bibirnya juga tersenyum
atau mengikuti lirik lagu yang Ia dengarkan. Rambutnya yang gondrong sebahu Ia
kuncir satu dibelakang. Semua nampak biasa saja, tetapi aku tak bisa melepaskan pandanganku padanya.
Aku terkejut saat Ia menoleh ke arahku.
Aku terlalu terpesona hingga tak tahu kalau Ia merasa terganggu dengan tatapanku.
Wajahku terasa memanas dan aku yakin warna mukaku sudah berubah menjadi merah.
Spontan saja aku membuang muka lalu menunduk malu. Bukannya ke-PD-an, tetapi
aku merasa diperhatikan oleh lelaki ini. Aku jadi gugup dan salah tingkah
walaupun aku tak menatap matanya. Kami terdiam selama beberapa menit sampai bus
datang dan aku langsung berdiri memasuki bus tanpa melihat ke arah lelaki tadi.
Selama berada dalam bus, masih saja aku terbayang wajah lelaki itu.
Lekuk-lekuk wajahnya dari samping, yang membuatku terpana. Ahh.. tak usah
berpikir macam-macam, ini hanya kebetulan, dan biasa terjadi pada semua gadis
kalau melihat lawan jenis yang cakap. Belum tentu di waktu selanjutnya bisa
bertemu lagi. Jadi, kukubur saja bayangan semu wajah sejuk itu.
…………………
Perjalanan menuju halte bus terasa panjang. Padahal jarak halte dari
sekolah hanya sekitar 20meter saja. Tak tahu mengapa, di hari baru ini, aku
berharap bertemu dengan lelaki kemarin. Lelaki yang kutemui d halte bus. Aku
lelah memungkiri perasaanku bahwa aku tak memikirkan, kalau nyatanya aku selalu
terbayang sosoknya. Hatiku berdebar cepat pelan seiring langkahku membawaku ke
halte. Padahal ini terlalu cepat. Aku tahu itu, namun enggan menyadarinya.
Deg!
Jantungku berhenti berdetak. Lelaki itu sedang mendengarkan musik lagi,
seperti kemarin. Kali ini Ia menggunakan kaos putih transparan yang memamerkan
betapa bagusnya lekuk tubuhnya. Celana jeans selututnya memperlihatkan kakinya
yang lenjang dengan sedikit bulu kaki yang tak panjang.
Aku duduk di paling ujung kursi halte. Aku tak mau mencari malu karena
gugup atau salah tingkah di hadapannya. Namun lagi-lagi, aku merasa ditatap
olehnya. Entahlah, mungkin aku yang terlalu paranoid. Terus saja aku menunduk.
Tunggu dulu!
Ia memang melihatku. Aku bisa melihatnya dari layar handphone-ku. Ia
sekarang sedang berdiri dan… menuju ke arahku! Oh, please, nafasku terasa berat
sekali. Hidungku tak mampu menghirup banyak oksigen secara tiba-tiba.
Ia hanya diam tepat di sebelahku. Hanya menatapku tajam. Apa aku melakukan
kesalahan? Aku rasa tidak. Apa jangan-jangan dia juga ingin berbicara denganku?
Ah, jangan GR. Tapi, kenapa Ia hanya diam? Apa harus aku yang memulai
pembicaraan? Ahh, terlalu cepat untuk kulakukan.
Tidak. Aku adalah seorang gadis. Harus gengsi. Biarkan saja dia memulai
duluan kalau memang Ia ingin berbicara denganku. Namun tubuhku berkata lain,
sendi-sendiku malah menggerakkannya ke arah belakang. Kini aku menatapnya dan
Ia juga. Mata kami benar-benar bertemu, darahku terasa mengalir deras.
5 menit berlalu. Kami tetap saling tatap dan membisu. Aku duduk dan Ia
berdiri dihadapanku. Aku tak tahu harus memulai dari mana pembicaraan kami. Bahkan
hanya untuk sekedar melemparkan senyum pun, aku tak mampu. Akhirnya lelaki
jangkung itu tersenyum lalu pergi ke arah mentari terbenam. Berjalan seiring
tenggelamnya matahari.
…………….
Kejadian ini sudah berlangsung seminggu. Aku dan Dia selalu bertemu di
halte bus pada sore hari dan selalu diam. Walaupun sudah lama waktu terlewat
namun tak sepatah katapun terucapkan. Jujur, aku sangat ingin memulai duluan,
tetapi gengsiku terlalu tinggi, dan juga aku tak mampu berucap saat ditatapnya.
Sore di hari Sabtu ini, aku dan dia duduk berdua (lagi), hanya saja ada
yang berbeda. Ia duduk di dekat tempatku biasa duduk sehingga jarakku dengannya
sangat dekat. Aku berusaha mengucapkan ‘hai’ atau ‘halo’ atau ‘apa kabar’ yang
sudah kurencanakan di rumah. Tapi ternyata sulit melakukannya saat berada
disampingnya.
Kuberanikan diri menoleh ke arahnya. Oh, Ia sedang mendengarkan musik
seperti hari-hari kemarin. Kini rambutnya Ia biarkan tergerai dan angin yang
nakal mengusiknya.
Ia menoleh, mata kami bertatap.
“hai”, ucapnya sambil tersenyum ramah.
Aku benar-benar terkejut hingga lupa menjawabnya.
“hai juga”, jawabku lama. Bisa kujamin, kali ini mukaku berubah merah
lagi. Kutundukkan kepalaku sampai rambut menutupi wajahku.
Namun hoki tidak dipihakku, bus terakhir datang dan lelaki itu langsung
beranjak masuk ke dalamnya. Harusnya aku yang masuk dalam bus itu, bukan dia. Karena
selama ini, selalu aku yang meninggalkannya, bukan Dia.
Saking bingungnya, aku tertinggal bus itu. Aku mengumpat selama
perjalanan. Tetapi, ada satu hal yang lama tak kurasakan di jalan ini. Senja. Aroma
tanah dan rumput yang masih basah akibat hujan tadi siang, ditambah warna
keemasan senja, haaaahhhh.. aku sangat menyukainya. Jadi, kunikmati saja
perjalananku sambil mengingat halusnya suara lelaki tadi menyapaku. Aku bahagia.
………………
Hari ini hari Minggu. Bukan waktu sekolah. Tapi aku tetap berjalan menuju
halte bus. Entah pikiran gila apa yang merasukiku. Sekarang aku berada dalam
bus menuju halte, dan jantungku berdegup kencang, sangat kencang. Hari ini aku
mau berbicara dengannya. Harus. Aku sudah bertekad.
Bus berhenti dan aku turun. Benar saja, Ia ada disana sambil mendengarkan
musik dan menggendong tas ransel di punggungnya. Aku duduk tepat di sebelahnya.
“Ini hari Minggu, bukan?”, tanyanya tiba-tiba.
“Memang”, jawabku lalu menoleh ke arahnya, ternyata Ia sudah menatapku. Aku
tersenyum. Yes! Aku berhasil melakukannya.
“Lalu mengapa kau di sini?”, Ia bertanya lagi.
“Hanya mencari ketenangan senja”, ucapku.
Ia tertawa, “Kupikir aku sendiri yang mencarinya. Dan kau temukan itu di sini?”
Aku mengangguk malu.
“Kita sama”, ujarnya. Lalu kami kembali terdiam.
Tak lama, Ia menarik nafas panjang,
“Ternyata hari ini memang hokiku. Ini untukmu”, ucapnya setelah berdiri
dan mengeluarkan amplop biru dari sakunya, tersenyum sedikit lama, lalu
melangkah pergi dengan santai tanpa menatapku kembali.
Aku terus membuntutinya dengan mataku sampai bayangannya benar-benar
menghilang di sudut mataku. Aku membuka amplop manis itu, dan mulai membacanya,
Dear gadis halte,
Aku memiliki hidup
yang membosankan. Bahkan aku tak betah di rumahku sendiri. Akhirnya aku memutuskan
pergi sendiri ke halte bus ini Senin lalu, dan kau datang dengan wajah lelahmu.
Aku langsung terpana melihatmu. Namun kau hanya diam tak menatapku. Dari seragammu,
aku menebak bahwa menunggu di halte bus adalah rutinitasmu.
Esoknya aku ke
halte lagi. Benar saja, kau ada di sana. Entah rasa apa yang merasukiku hingga
aku seperti ini. Aku suka padamu. Tapi tak sedikitpun kau mau melirikku. Itu cukup
membuatku sadar bahwa aku mengganggumu. Apalagi setelah kemarin aku tahu bahwa
kau selalu mencari ketenangan di halte ini sendirian.
Aku berharap aku
bosan melakukannya seperti yang biasanya kurasakan. Tetapi setelah seminggu,
ternyata rasa bosan itu tak sedikitpun muncul. Yang ada malah aku semakin
penasaran denganmu. Hingga aku berani menyapamu terlebih dahulu, tahukah kau
bahwa itu memerlukan tenaga yang sangat banyak? Aku harus melawan debar
jantungku yang hebat terlebih dahulu. Ini adalah pertama kalinya buatku.
Namun responmu
tetap sama seperti biasanya. Hanya menjawab seperlunya lalu pergi begitu saja. Rasa
kecewaku kuluapkan dengan cara meninggalkanmu sendirian kemarin. Maafkan aku.
Hari ini, aku
bertekad ingin mengajakmu berbincang. Aku tak mampu menahan hal bodoh yang
terlalu cepat dan spontan kurasakan. Jika aku berhasil melakukannya, berarti
aku berhasil memenangkan hatiku dan surat ini sudah ditanganmu. Namun jika kali
ini gagal, biarlah surat ini kuletakkan di halte bus dan membiarkannya terbang
bersama angin di ufuk senja.
Gadis, aku sangat
tidak jantan, bahkan aku tak tahu siapa namamu. Aku tahu kau tidak menyukaiku. Jadi,
maafkan aku karena aku mengganggu sumber ketenanganmu sepanjang minggu ini. Aku
hanya salah satu penggemar bisumu yang tidak gentle. Kali ini aku akan berhenti
mengusik hidupmu, jadi aku harus melanjutkan perjalananku di sisa hidupku yang
tak panjang karena penyakitku sendiri lagi walaupun berat rasanya. Selamat tinggal..
Pemujamu, Marchell
Marchell bodoh! Aku bodoh! Kau sama sekali tidak mengganguku, aku juga
merasakan hal yang sama. Penyesalan datang bertubi-tubi padaku. Hati dan
pikiranku mengutuk gensi yang kutinggikan selama seminggu ini.
“aku menyesal..aku menyesal..”, rintihku.
Aku berlari mengejar Marchell yang entah sudah seberapa jauhnya. Aku menembus
langit jingga dan keemasan mencari Marchell, namun Ia sudah pergi jauh karena aku
tak menemukannya.
“Marchell, dimanapun kamu, siapapun kamu, aku berterima kasih karena sudah
membuat hatiku berdebar dan berbunga. Terima kasih juga sudah menyadarkanku
untuk tidak gensi, dan terima kasih atas kehilangannya. Aku bisa mengerti
bertapa yang berharga harus kujaga dan kupertahankan. Semoga kau baik-baik saja
selama hidupmu. Selamat tinggal juga”, lirihku menatap warna keemasan yang
mulai menghilang dan berganti gelap dengan pancaran bintang.
Setelah hari itu, aku tak pernah menemuinya lagi. Ia tidak ada di halte
bus tempat kami pertama bertemu dan tempat kami berpisah. Aku tetap menunggu
bus di sana setiap hari, sekaligus berharap bertemu lelaki yang kuketahui
bernama Marchell itu lagi, hingga aku lulus SMA. Memang tidak membuahkan hasil,
tapi paling tidak, Ia sempat memberi warna dan kenangan di halte bus ini. Suatu
senja di halte bus...
cuma pengen senyum :)
BalasHapusHai kak makasi uda mampir :)
BalasHapus